Menjaga kebersihan tubuh sendiri merupakan keterampilan bantu diri yang harus dimiliki anak sesuai tahap perkembangan sosialnya. Salah satu bentuk keterampilan menjaga kebersihan tubuh adalah BAK dan BAB pada tempatnya, yang harus orangtua ajarkan melalui toilet training. Baca mengenai pengertian toilet training, cara toilet training dan kapan mulai toilet training di artikel ini.

Pengertian toilet training

Toilet Training pada anak pada dasarnya merupakan proses melatih dan menanamkan kebiasaan pada anak untuk melakukan aktivitas buang air kecil dan besar pada tempatnya, di toilet. Toilet training menjadi awal dari proses anak menuju kemandirian, di mana anak mulai belajar melakukan hal-hal kecil sendiri. Toilet Training juga membantu anak mengenali bagian-bagian tubuh serta fungsinya (anatomi) tubuhnya. Baca juga Mencegah Pelecehan Seksual Pada Anak dengan Pendidikan Seks Dini.

Namun, mengajari anak kebersihan diri dengan melakukan BAK dan BAB pada tempatnya, bukanlah proses yang mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Bahkan, banyak orangtua yang menyerah di tengah-tengah proses toilet training karena adanya reaksi penolakan dari anak dan ketidaksiapan orangtua. Sebenarnya, kapan saat yang tepat untuk memulai toilet training?

Kapan memulai toilet training?

Saat yang tepat untuk mulai toilet training adalah ketika anak dan orang tua sama-sama siap, di mana anak sudah siap secara fisik maupun mental dan orangtua juga bisa menyisihkan waktu untuk mengajari anak toilet training.

Tanda-tanda fisik anak telah siap menerima toilet training antara lain:

  • Dapat duduk tegak
  • Mampu jongkok 5-10 menit tanpa berdiri dulu
  • Sudah memiliki jadwal BAK dan BAB yang cukup teratur
  • Bisa tetap kering selama dua sampai tiga jam
  • Anak berhasil bangun tidur tanpa mengompol
  • Dapat menaik-turunkan celananya sendiri

Cermati tanda-tanda fisik eksternal yang menunjukkan bahwa anak merasakan tekanan dari dalam: berjongkok, memegang atau meremas celananya, wajah yang tampak sedang mengejan, menyilangkan kaki, mundur ke pojok, atau bersembunyi. Tanda-tanda fisik ini juga merupakan petunjuk bahwa si kecil sudah mencapai perkembangan yang cukup matang untuk menyadari hal yang sedang terjadi dalam tubuhnya.

Selain melihat kesiapan fisiknya, pertimbangkan juga kesiapan mental si anak. Sebab, seorang anak yang sudah siap secara fisik belum tentu siap meninggalkan kenyamanan popoknya. Beberapa ciri anak sudah siap secara mental untuk diberikan toilet training:

  • Sudah mengenal rasa ingin berkemih dan devekasi
  • Bisa mengungkapkan kebutuhan untuk berkemih baik verbal maupun nonverbal
  • Merasa tidak nyaman dengan kondisi basah atau kotor di celana dan ingin segera diganti
  • Dapat membedakan BAK dan BAB
  • Memahami instruksi sederhana dan bisa meniru perilaku orang lain
  • Tertarik dengan kebiasaan dan kegiatan orang dewasa di kamar kecil
  • Minta diajari menggunakan toilet

Sementara itu, orangtua juga sedang tidak terikat dengan komitmen lain sehingga bisa fokus, karena proses toilet training tidak bisa dilakukan hanya sekali dua kali. Orangtua harus mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan devekasi, bisa meluangkan waktu untuk latihan berkemih dan devekasi pada anaknya, dan tidak sedang mengalami konflik tertentu atau stress keluarga yang berlebihan yang bisa mengganggu proses toilet training pada anak.

Usia yang tepat untuk memulai toilet training

Toilet Training dapat dilakukan pada usia 1-3 tahun atau usia balita, pada saat kemampuan untuk mengontrol rasa ingin pipis dan pup telah berfungsi. Namun kesiapan dan kemampuan setiap anak berbeda-beda tergantung faktor fisik dan psikologisnya. Baca juga Cara Mengajari dan Melatih Anak Berjalan.

Langkah dasar dan Cara toilet training

Berikut beberapa cara memulai toilet training dan langkah dasar melatih anak duduk di pispot atau toilet:

  • Amati jadwal pipis dan BAB anak dengan seksama
  • Kenalkan anak dengan pispotnya
  • Hilangkan ketakutan anak akan pispot atau toilet
  • Berikan intruksi pada anak dengan kata-kata sebelum dan sesudah buang air kecil dan buang air besar
  • Berikan contoh untuk anak tirukan
  • Semangati anak pada saat yang tepat dan sesering mungkin
  • Ajari anak mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan buang air kecil dan buang air besar

Beberapa hal penting yang harus diingat dalam proses toilet training:

  • Biarkan anak berkembang sesuai waktunya, Anda tidak bisa mempercepat prosesnya, Anda hanya bisa mengamati dan menstimulasi
  • Biarkan anak memutuskan kapan harus BAB, Anda bisa mengingatkan dan memberi saran, namun jangan memaksanya
  • Hadapi kegagalan anak dalam mengontrol pipis dan BAB dengan sikap alami dan terbuka. Ini merupakan bagian dari proses pertumbuhan yang dihadapi semua anak, jangan menunjukkan sikap jijik
  • Beri respon sesegera mungkin begitu anak mulai menunjukkan urgensi untuk pipis atau BAB karena anak hanya bisa menahan pipis atau BAB untuk waktu singkat
  • Memulai toilet training memang harus melihat kesiapan anak secara fisik dan mental serta kesiapan orang tua. Namun, prosesnya juga tidak boleh terlambat dilakukan, usia dua sampai tiga tahun harus sudah dikenalkan ke toilet. Perkembangan sosial anak akan terganggu jika terlambat mendapatkan toilet training, apalagi ketika sudah memasuki masa sekolah. Artikel terkait: Tips Memilih Sekolah KB / TK yang Bagus untuk Anak

Baca juga mengenai Tips Toilet Training Pada Anak yang Efektif dan Positif dan Ruam Popok pada Bayi - Gejala, Penyebab dan Pencegahan.

Demikian sedikit informasi terkait pengertian, kapan dan cara memulai toilet training. Transisi dari popok ke toilet merupakan milestone besar dan mencakup perubahan psikologis yang signifikan pada anak. Tak seperti milestone lainnya, toilet training membutuhkan bimbingan yang intens, waktu dan kesabaran. Namun, dengan kekonsistenan, semangat dan pujian dari Anda, buah hati Anda akan segera lulus toilet training tanpa Anda sadari.