Buah hati Anda sudah memperlihatkan semua tanda-tanda kesiapan belajar buang air besar dan kecil di toilet. Namun, Anda mungkin masih bingung harus mulai darimana dalam mengajarkan toilet training ke balita Anda. Berikut berbagai tips toilet training pada anak yang efektif dan positif:

Baca juga:

Sebelum memulai toilet training, anak perlu terbiasa dengan gagasan duduk di pispot atau kloset anak. Terangkan ke anak bahwa toilet atau pispot merupakan tempat khusus di mana ia bisa buang air besar dan kecil seperti halnya anak yang lebih besar. Ceritakan secara sederhana cara pipis dan bab serta proses memakai pispot atau toilet, jelaskan tentang alat kelamin dan fungsinya, bacakan cerita atau dongeng yang berkaitan dengan kebersihan diri, dan belikan ia celana dalam seperti layaknya anak sudah besar. Jelaskan bahwa ia akan memakai celana dalam dan bukan popok lagi. Belikan pispot atau toilet anak yang menarik yang anak sukai atau biarkan ia memilih sendiri. Biarkan ia tahu bahwa pispot atau toilet anak adalah miliknya, Anda bisa menulis namanya di atasnya atau biarkan anak Anda menempelkan stiker atau dekorasi untuk menandai barang kepunyaannya.

Hindari pakaian dengan banyak pernak-pernik seperti kancing atau resleting, pakaian ketat atau susah dibuka yang akan menjadi penghalang bagi anak Anda selama proses toilet training pada anak.

Tentukan apakah Anda akan menggunakan celana dalam pull up, celana training atau celana dalam biasa dan usahakan untuk tetap konsisten dengan pilihan Anda supaya tidak membingungkan anak. Selain itu, celana dalam tersebut akan terasa lebih berarti jika ia memilihnya sendiri. Bawa buah hati Anda berbelanja, lakukan dengan cara seheboh mungkin dan biarkan ia memilih pakaian dalamnya sendiri.

Jika memungkinkan, taruh pispot di setiap ruangan, dari ruang tamu hingga dapur.

Amati siklus pipis dan buang air besarnya untuk memudahkan Anda mengatur jadwal anak ke toilet, misalnya beberapa waktu setelah bangun tidur atau di waktu lain yang sesuai dan menjadikannya sebagai rutinitas setiap hari. Ajak anak Anda untuk menyalurkan dorongan bak dan bab pada waktunya. Biarkan ia melakukan rutinitasnya, bahkan jika ia belum perlu buang air besar.

Anak belajar dari meniru, karenanya mengamati orang dewasa melakukan kegiatan di kamar kecil merupakan salah satu cara toilet training pada balita yang efektif. Anda juga bisa menjadi model bagi anak Anda dan mencontohkan kegiatan di kamar kecil terlebih dahulu. Biarkan anak mengobservasi, jelaskan apa yang sedang Anda lakukan dan kenapa Anda melakukannya. Ajari juga cara kerja toilet dan biarkan anak Anda menyiramnya sendiri. Pelan-pelan, anak akan mengerti dan meniru apa yang Anda lakukan. Jangan kuatir, biarkan anak beradaptasi perlahan-lahan dan menjadikannya sebagai kebiasaan secara bertahap. Setelah beberapa lama, anak akan terbiasa dengan toilet atau pispot dan bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan Anda lagi.

Menggunakan boneka untuk mendemonstrasikan kegiatan di kamar kecil dan membacakan cerita yang berkaitan dengan kebersihan di kamar kecil merupakan cara lain untuk membantu anak belajar dari mencontoh. Anda juga bisa mempergunakan video-video edukasi yang menarik dari karakter favoritnya yang sedang belajar ke kamar kecil.

Mulailah toilet training pada anak di musim kemarau dan segala sesuatu akan berjalan dengan lebih mudah.

Sebagian orangtua tidak membolehkan anaknya menggunakan pispot, sebaliknya anak belajar langsung menggunakan kloset anak atau toilet biasa dari awal dan trik ini berhasil untuk mereka.

Cari strategi untuk menangani masalah toilet training saat tidak berada di rumah, contohnya pada saat bepergian dengan anak Anda, jika memungkinkan bawa serta peralatan potty training sehingga bisa dipakai pada saat dibutuhkan.

Jika Anda menitipkan anak di tempat penitipan anak, minta saran dari TPA tersebut dan pastikan tidak ada peraturan yang ketat berkenaan dengan kebersihan yang mungkin bisa menjadi masalah. Informasikan ke mereka bahwa Anda sedang melatih anak ke kamar kecil dan dapatkan bantuan dari mereka selama proses toilet training pada balita.

Buat suasana ke toilet seperti bermain atau pakai cara seru untuk mengajak anak melakukan toilet training, misalnya menggunakan obat khusus yang tidak berbahaya untuk membuat warna air di kloset menjadi biru, menempel stiker tanda berhasil memakai pispot/toilet dengan benar, menempatkan boneka favorit sebagai teman ketika pipis atau pup, atau melengkapi toilet dengan benda-benda favorit si kecil berupa mainan atau buku cerita kesukaannya dan cara lainnya. Suasana yang menyenangkan buat si kecil mempermudah anak menyukai latihan toilet yang diajarkan orang tua.

Rayakan dan puji anak Anda setiap kali ia berhasil ke kamar kecil, sebisa mungkin hindari menggunakan permen atau hadiah lainnya sebagai penyemangat. Besarkan hatinya pada saat ia gagal dan usahakan untuk tetap tenang dan sabar ketika itu terjadi. Jika anak pernah ngompol atau BAB di celana, tidak perlu menghukum dan mengungkitnya terus menerus. Biarkan ia tahu bahwa akan butuh waktu untuk terbiasa ke kamar kecil, dan semangati serta hargai setiap usaha yang ia lakukan.

Pastikan untuk melibatkan seluruh anggota keluarga dalam proses toilet training pada anak Anda. Jika menggunakan pengasuh, pastikan pengasuh anak mampu secara konsisten melaksanakan pelatihan yang Anda terapkan sehingga tidak terjadi kebingungan. Beri informasi lengkap dan detil mengenai kebiasaan dan jadwal pipis dan pup anak. Tekankan pentingnya konsistensi selama proses ini. Konsistensi akan mempercepat pemahaman dan ketrampilan anak dalam memakai memakai toilet.

Selama masa toilet training pada balita, Anda harus bersikap baik, positif, natural, dan tidak terlalu kaku. Anda bisa mengadopsi metode training progresif, misalnya, di awal proses toilet training, anak hanya harus menggunakan kloset anak atau pispot di pagi hari, dan boleh memakai popok di waktu lainnya. Secara bertahap, perpanjang waktu pemakaian pispot atau toilet anak hingga ke siang dan malam hari. Dengan begitu, tekanan yang harus dihadapi anak dan Anda sendiri akan jauh berkurang.

Hindari konflik intens dengan anak selama proses toilet training. Perlakukan anak Anda sebagai individu bebas, jangan memaksakan kehendak Anda. Kunci keberhasilan toilet training adalah bersikap sabar dan santai, bagaimanapun, anak tidak akan memakai popok selamanya, begitu anak siap, proses toilet training akan berjalan secara alami.

Demikian berbagai tips toilet training pada anak yang efektif dan positif. Jika proses toilet training pada balita dilakukan secara konsisten dan bertahap, anak akan sudah bisa diajari membersihkan tubuh sendiri setelah melakukan BAK atau BAB pada usia lima atau enam tahun. Baca juga Pengertian, Kapan, dan Cara Memulai Toilet Training.